Pagi itu udara di kotaku terasa segar dan cuaca cerah. Aku kaget banget ketika tiba-tiba Gus Syiroth memanggilku dengan suara yang cukup keras.
"Ada apa Gus?" jawabku.
"Ayo ikut saya bersepeda ke puncak" katanya dengan kalem tanpa menunjukkan kesan menyesal karena sudah mengagetkanku.
Begitu mendengar ajakannya, aku semakin kaget dan terdiam sejenak, sambil berpikir.
"Nggak waras ta (= gila) Gus Syiroth ini?" gumamku dalam hati.
Masalahnya, aku bersepeda pancal sedang Gus Syiroth bersepeda motor dan mengajak bersepeda bersama-sama ke puncak. Apalagi katanya satu jam sudah sampai, sementara jarak ke puncak sekitar 40 kilometer.
"Kenapa ?" tanya nya.
Dan aku hanya diam, diam, diam dan diam.
Tentu anda pembaca cerita di atas juga setuju denganku bahwa Gus Syiroth gila.
Lantas aku bertanya :
Tapi jika ............
Tapi jika yang diucapkan oleh Gus Syiroth tersebut benar, maka siapakah yang gila ?
Aku-lah yang gila.
Akulah yang salah melihat sepeda (=potensi) yang aku punya adalah sepeda pancal.
Sedang Gus Syiroth melihat sepedaku (=potensiku) adalah sepeda motor.
Aku kadang salah, under estimate, melihat potensiku.
Salam Selamanya,
Yasin Yangdi
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar